Selasa, 03 Juli 2012

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Suatu pertikaian mungkin mendapatkan suatu penyelesaian. Mungkin penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sernentara waktu, yang dinamakan akomodasi (accomodation); dan ini berarti bahwa kedua belah pihak belum tentu puas sepenuhnya. _ Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial.

1. Proses-proses yang Asosiatif
a. Kerja Sama (Cooperation)
Beberapa sosiolog menganggap baliwa kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Kerja sama di sini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya) dan kelompok lainnya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama mungkin akan bertambah kuat apabila ada bahaya luar yang mengancam atau ada tindakan-tindakan luar yang menyinggung kesetiaan yang secara tradisional atau institusional telah tertanam di dalam kelompok, dalam diri seorang atau segolongan orang. Kerja sama dapat bersifat agresif apabila kelompok dalam jangka waktu yang lama mengalami kekecewaan sebagai akibat perasaan tidak puas karena keinginan-keinginan pokoknya tak dapat terpenuhi karena adanya rintangan-rintangan yang bersumber dari luar kelompok itu.
Dalam teori-teori sosiologi akan dapat dijumpai beberapa bentuk kerja sama yang biasa diberi nama kerja sama (cooperation). Kerja sama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan kerja sama spontan (spontaneous cooperation), kerja sama langsung (directed cooperation), kerja sama kontrak (contractual cooperation) dan kerja sama tradisional (traditional cooperation). Kerja sama spontan adalah kerja sama yang serta-merta. Kerja sama langsung merupakan hasil dari perintah atasan atau penguasa, sedangkan kerja sama kontrak merupakan kerja sama atas dasar tertentu, dan kerja sama tradisional merupakan bentuk kerja sama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial.

b. Akomodasi (Accomodation)
1. Pengertian
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti, yaitu untuk menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menunjuk pada suatu proses.19 Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.
Menurut Gillin dan Giilin,'-0 akomodasi adaiah suatu pengertian yar`ig digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptation) yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi untuk menunjuk pada suatu proses di mana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya.
Akomodasi sebenarnya rnerupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
2. Bentuk-bentuk Akomodasi
Akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.
a. Coercion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan. ;Coercion merupakan bentuk akomodasi, di mana salah satu pihak berada dalarn keadaan yang lemah bila dibandingkan dengan pihak lawan. 
b. Compromise adalah suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. 
c. Arbitration merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.
d. Mediation hampir menyerupai arbitration. Pada mediation diundanglah pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada. 
e. Conciliation adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih derni tercapainya suatu persetujuan bersama. 
f. Toleration juga sering dinamakan tolerant-participation. Ini merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya. 
g. Stalemate merupakan suatu akomodasi, di mana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. 
h. Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.
3. Hasil-hasil Akomodasi
a. Akomodasi, dan Integrasi Masyarakat 
Akomodasi dan integrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan baru.
b. Menekan oposisi
Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu (misalnya golongan produsen) dan kerugian pihak lain (misalnya golongan konsumen). Akomodasi antara golongan produsen yang mula-mula bersaing akan dapat rnenyebabkan turunnya harga, karena barang-barang dan jasa-jasa lebih mudah sampai kepada konsumen.
c. Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda
Hal ini tampak dengan jelas apabila dua orang, misalnya, bersaing untuk menduduki jabatan pimpinan suatu partai politik. Di dalam kampanye pemilihan, persaingan dilakukan dengan sengit, tetapi setelah salah satu terpilih, biasanya yang kalah diajak untuk bekerja sama demi keutuhan dan integrasi partai politik yang bersangkutan.
d. Perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah
e. Perubahan-perubahan dalam kedudukan
Sebetulnya akomodasi menimbulkan penetapan baru terhadap kedudukan orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia. Pertentangan telah menyebabkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan akomodasi akan mengukuhkan kembali kedudukankedudukan tersebut.
f. Akomodasi membuka jalan Ice arah asimilasi
Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal darn dengan timbulnya benih, benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati. 
4. Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut.; ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. 
Ada beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang asimilatif) bila memiliki syarat-syarat berikut ini.
1) Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, di mana pihak yang lain tadi juga berlaku sama. 
2) Interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan. 
3) Interaksi sosial tersebut bersifat langsung dan primer. 
4) Frekuensi interaksi sosial tinggi dan tetap, serta ada keseimbangan antara pola-pola asimilasi tersebut. 
Faktor-faktor umum yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut.
1) Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat (biasanya golongan minoritas)
2) Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi dan sehubungan dengan itu sering kali menimbulkan faktor ketiga.
3) Perasaan 'takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
4) Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu Iebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
5) Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah dapat pula menjadi salah satu penghalang terjadinya asimilasi. 
6) In group feeling
In-group feeling yang kuat dapat pula menjadi penghalang berlangsungnya asimilasi. In-group feeling berarti adanya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan kebudayaan kelompok yang bersangkutan.
7) Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap golongan minoritas lain yang dapat mengganggu kelancaran proses asimilasi adalah apabila golongan minoritas mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa. 
8) Kadangkala faktor perbedaan kepentingan yang kemudian ditambah dengan pertentangan-pertentangan pribadi juga dapat menyebabkan terhalangnya proses asimilasi. 

2. Proses Disosiatif
Proses-proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, yang persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan.
Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses-proses yang disosiatif dibedakan dalarn tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.
a. Persaingan (Competition)
Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing niencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian urnum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara nienarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa rnempergunakan ancaman atau kekerasan.
Tipe-tipe tersebut di atas menghasilkan beberapa bentuk persaingan, yaitu sebagai berikut :
1) Persaingan ekonomi
Persaingan di bidang ekononii timbul karena terbatasnya persediaan apabila dibandingkan dengan jumlah konsumen. Persaingan merupakan salah satu cara untuk memilih produsen-produsen yang baik. 
2) Persaingan kebudayaan
3) Persaingan kedudukan dan peranan
4) Persaingan ras
Persaingan ras sebenarnya juga merupakan persaingan di bidang kebudayaan. 
Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut.
1) Menyalurkan keinginan-keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif
2) Sebagai jalan di mana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian, tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing.
3) Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan sosial Persaingan berfungsi untuk mendudukkan individu pada kedudukan serta peranan yang sesuai dengan kemampuannya. 
4) Sebagai alat menyaring para warga golongan karya (“fungsional”) Persaingan dapat juga berfungsi sebagai alat untuk menyaring para warga golongan karya (“fungsional”) yang akhirnya akan menghasilkan pembagian kerja yang efektif. 

Akibat-akibat persaingan mungkin saja bersifat asosiatif atau mungkin pula bersifat disosiatif. Apabila seorang dokter, ahli hukum, guru, dan seterusnya membina kariernya dalam masyarakat, maka kecuali bahwa tujuannya adalah untuk pribadi sendiri dan relasinya, juga untuk mengadakan kerja sama agar persaingan antara mereka sendiri sedapat mungkin dicegah. Akibat-akibat yang disosiatif dapat menjadi pertentangan atau pertikaian. Hasil suatu persaingan terkait erat dengan berbagai faktor berikut ini :
1) Kepribadian seseorang
2) Kemajuan
3) Solidaritas kelompok
4) Disorganisasi. 

b. Kontravensi (Contravention)
1. Pengertian
Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian.
2. Tipe-tipe Kontravensi
Menurut Von Wiese dan Becker, terdapat tiga tipe umum Kontravensi yaitu kontravensi generasi. masyarakat, kontravensi yang menyangkut seks, dart kontravensi parlementer.
Tipe-tiae tersebut dimasukkan dalam kategori kontravensi, karena umumnya tidak menggunalcan ancaman atau kekerasan. Tipetipe tersebut antara lain sebagai berikut. 
1) Kontravensi antarmasyarakat setempat
Kontravensi antarmasyarakat setempat, (comnnunity) mempunyai dua bentuk, yaitu kontravensi antara masyarakat-masyarakat seternpat yang berlainan (intracommunity strunggle) dan kontravensi antara golongan-golongan dalam satu masyarakat setempa (bitercomrriilnity struggle).
2) Antagonisme keagamaan 
3) Kontravensi Intelektual
Kontravensi intelektual, misalnya, sikap meninggilcan diri dari mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi, terhadap mereka yang kurang beruntung dalam bidang pendidikan. 
4) Oposisi moral
Hal ini berhubungan erat dengan latar-belakang kebudayaan, biasanya yang sudah mapan, yang menimbulkan prasangka terhadap taraf kebudayaan tertentu lain, termasuk di dalamnya sist.em nilai yang menyangkut bidang moral.

3. Pertentangan (Pertikaian atau Conflict)
Pribadi maupun kelompok menyadari adanya perbedaan-perbedaan. Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian (conflict). 
Akar-akar dari pertentangan antara lain sebagai berikut.
a) Perbedaan antara individu-individu
Perbedaan pendirian dan perasaan mungkin akan melahirkan bentrokan antara mereka
b) Perbedaan kebudayaan
Perbedaan kepribadian dari orang perorangan tergantung pula dari pola-pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan serta perkembangan kepribadian tersebut. 
c) Perbedaan kepentingan
Perbedaan kepentingan antarindividu maupun kelompok merupakan sumber lain dari pertentangan. 
d) Perubahan sosial
Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dan ini menyebabkan terjadinya golongan-golongan yang berbeda pendiriannya, 
Pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus, yaitu sebagai berikut :
a) Pertentangan pribadi
b) Pertentangan rasial
c) Pertentangan antara kelas-kelas sosial
d) Pertentangan politik
e) Pertentangan yang bersifat internasional
Akibat-akibat bentuk pertentangan adalah sebagai berikut :
a) Tambahnya solidaritas in-group
Apabila suatu kelompok bertentangan dengan kelompok lain, solidaritas anr:ara warga-warga kelompok. biasanya akan bertambah erat. Mereka bahkan bersedia berkorban demi keutuhan kelompoknya.
b) Apabila pertentangan antara golongan-galongan terjadi dalam satu kelompok tertentu, akibatnya adalah sebaliknya, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok tersebut.
c) Perubahan kepribadian para individu
Pertentangan yang berlangsung di dalam kelompok atau antar kelompok, selalu ada orang yang menaruh simpati kepada kedua belah pihak. 
d) Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia
Kiranya cukup jelas betapa salah-satu bentuk pertentangan yang terdahsyat, vaitu peperangan teiah menyebabkan penderitaan yang berat, baik bagi pemenang maupun bagi pihak yang kalah, baik dalam bidang kebendaan maupun bagi jiwa-raga manusia.
e) Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak
Apabila kekuatan pihak-pihak yang bertentangan seimbang, maka mungkin timbul akomodasi. Ketidakseimbangan antara kekuatan-kekuatan pihak-pihak yang mengalami bentrokan akan menyebabkan dominasi oleh satu pihak terhadap lawannya. Kedudukan pihak yang didominasi tadi adalah sebagai pihak yang takluk terhadap kekuasaan lawannya secara terpaksa.

0 komentar:

Poskan Komentar