Sabtu, 02 Juni 2012

Macam Transisi dan Kependudukan


Macam Transisi dan Kependudukan

TRANSISI MORALITAS
Pembahasan tentang transisi moralitas terbatas besar kecilnya angka kematian penduduk suatu wilayah dan berbagai penyebab serta implikasinya. Dalam literature kependudukan transisi mobilitas ini dibagi menjadi 3 tahap 1) Soft rock , 2) Intermediate rock, 3) Hard rock. Masing-masing tahap ini dibedakan oleh besar kecilnya angka kematian bayi IMR, Infant Mortality Rate pada tahap soft rock, besar IMR diatas 100 per 1000 kelahiran. Pada tahap intermediate rock, besar IMR antara 30 – 39 per 1000 kematian. Pada tahap ketiga hard rock, besar IMR dibawah 30 per 1000 kelahiran.
Proses transisi martalitas yang terjadi selama ini terlepas kaitan dengan modernisasi yang terjadi. Dampak modernisasi terhadap penurunan angka kematian penduduk dunia dapat dikategorikan menjadi 4 tahap yaitu : Pertama; periode pertengahan abad ke – 10 sampai awal abad ke – 19 yang ditandai yang terjadinya kematian dalam bidang pertanian, adanya perbaikan dalam bidang kesehatan oleh Jenner pada tahun 1996. kedua, periode akhir abad ke 19 yang ditandai adanya revolusi pertama dalam bidang kedokteran. Ketiga, periode perang dunia pertama yang dicirikan kemajuan dalam bidang teknologi kedokteran dan meluasnya pendidikan kesehatan. Ke empat, pada perang dunia ke dua ditemukan pinisilin pada tahun 1929. kemudian ditemukan antibiotik spozti streptomicyin tahun 1944 dan aureomicyn tahun 1948.
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1990 dimana angka kematian bayi mencapai 70 kematian per 1000 kelahiran, dan berdasarkan survei demografi dan kesehatan Indonesia sebesar 68 kematian bayi diatas 100 yang dicirikan dengan penyakit-penyakit sederhana seperti (infecsi atau parasit)

TRANSISI FERTILITAS
Para ahli ekonomi kependudukan, easterlin dan CRIMMINS (1985) mengemukakan bahwa keputusan mengenai jumlah anak yang di inginkan dipengaruhi oleh harga.
Berdasarkan pemikirannya para ahli tersebut mengemukakan empat tahap. Pertama, pada tahap ini harga seorang anak sangat rendah, akibatnyajumlah anak yang diinginkan sangat banyak. Namun keadaan sosial masih banyak, begitu pula kondisi kesehatan para ibu. Kondisi gizi belum baik sehingga kesuburan para ibu dan resiko kegagalan sangat tinggi, dan fertilitas alam sangat rendah. 
Kedua, harga seorang anak sudah mulai meningkat, begitu pula tingkat fertilitas alamiah yang sudah melampui jumlah anak yang di inginkan. Dengan demikian, penduduk mengalami surplus fertilitas dan mereka mulai membetahkan kontrasepsi. 
Ketiga, harga anak sudah cukup tinggi, dan harga kontrasepsi sudah mulai terhangkau oleh sebagian penduduk yang sudah menginginkan dan menggunakan kontrasepsi.
Ke empat harga anak sudah sedemikian tinggi, namun harga pelayanan kontrasepsi sudah semakin rendah, sebagian besar penduduk sudah dapat menjangkau pelayanan kontrasepsi dan memakainya. Serta angka fertilitas semata-mata dipengaruhi oleh jumlah anak yang di inginkan oleh penduduk 
Pada tahap ini, tercapai kondisi replacement level fertility yang ditandai dengan angka net replacement rate sama dengan satu (NRR=1)

TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK
Perubahan komposisi penduduk (menurut usia, jenis kelamin atau yang lain) dari suatu wilayah akan berpengaruh timbal balik dengan kemampuan sosial ekonomi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Masyarakat wilayah tersebut dapat saja pindah ketempat lain bila mereka merasakan beberapa hal yang mendorong untuk melakukan hal itu, misalnya lowongan pekerjaan yang sangat menyempit dan sumber daya alam yang makin langka, sebaliknya untuk alasan serupa, masyarakat dari wilayah lain bisa saja masuk kewilayah tersebut.

Zelinsky membagi transisi mobilitas penduduk dalam 5 tahap yang berkaitan dengan karakteristik pemmbangunan social ekonomi masyarakat. Tahap pertama yaitu tahap masyarakat tradisional, kedua tahap awal masyarakat dalam transisi, ketiga tahap akhir masyarakat transisi. Keempat tahap masyarakat maju, kelima tahap masyarakat pasca industri.

TRANSISI URBANISASI
Tahapan-tahapan transisi terdiri atas 6 tahap, pertama wilayah perkotaan bermulai ada akibat dan pembukaan daerah-daerah baru dan mengembangkan daerah-daerah tersebut, kedua perekonomiasuatu wilayah mulai berkembang dan para migrant mulai membawa keluarga mereka. Ketiga ketika penduduk perkotaan sangat banyak sumbangan migrasi, neto dikalahkan oleh pertumbuhan penduduk alamai, keempat pertumbuhan alami “penduduk asli” wilayah perkotaan mulai menurun sebagai akibat penurunan fertilitas yang tajam dan berarti jumlah penduduk mulai berkurang, kelima urbanisasi mencapai angka 50 % migrasi neto menurun dengan tajam, keenam urbansasi mencapai angka 100 % hingga reklasifikasi tidak banyak dilakukan lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar